Sajak-Cerita

Perihal Memasak Yang Hanya Soal Mau dan Tidak Mau


 

IMG20170525175135-01

“gimana rasanya buka puasa bareng suami yang?” 

“seneng dong, -tapi sebenarnya bagian yang paling menyenangkan bagi saya adalah ketika menyiapkan buka puasanya yang, ketika memilih menu dan memasaknya, kemudian melihat ayang lahap makannya” 

“:)”

Itulah percakapan kami di hari pertama kami buka puasa bersama, di tempat makan, di rumah. Ramadhan kali ini begitu berbeda bagi saya. Kini saya menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan suami, sudah ganti status menjadi seorang istri. Kini puasanya di rumah sendiri, sudah pindah dari rumah orang tua. Saya yang dulunya berbuka dengan orang tua dan adik-adik kini merasakan berbuka hanya berdua dengan suami. Saya yang dulu membantu Ibuk menyiapkan menu berbuka puasa dan sahur di rumah, kini harus melakukannya sendiri. Kalau dulu saya hanya jadi asisten koki di rumah, sekarang saya jadi kokinya langsung nih.

Menjadi seorang istri tentu nggak bisa jauh dari yang namanya urusan dapur, iya kan. Entah menjadi istri yang bekerja di luar rumah atau tidak. Minimal menjadi pengatur keuangan untuk belanja dapur deh. Saya ingat kata-kata Ibuk ketika dulu saya “menjadi asistennya di dapur” -“walaupun jadi presiden perempuan itu tetap harus mengerti soal urusan dapur, soal masak-memasak”. Dan kalian tahu masak-memasak itu hanya soal mau atau tidak ternyata. Seriously. Ketika sudah menikah akan ada dorongan yang kuat untuk menyajikan sesuatu yang segar, enak, hangat dan spesial untuk suami, untuk keluarga. Maka secara naluriah kamu akan mulai meng-gugel resep-resep masakan. Mulai menginstal aplikasi resep masakan. Mulai memfollow akun-akun yang memberikan resep-resep makanan. Terpujilah orang-orang yang dengan tulus berbagi resep di media sosialnya …cihuy!

Obrolan saya dengan beberapa teman perempuan yang masing single, mengatakan bahwa mereka masih malas untuk masak-masak. Lebih praktis beli langsung. Apalagi kalau sudah punya uang sendiri, sudah bekerja, lebih enak beli nggak perlu capek-capek masak, lagian hanya untuk diri sendiri. Saya juga dulu gitu sih sebelum menikah -,- . Kalau direnungkan hal ini ya murni hanya karena malas saja. Saya rasa tidak ada perempuan yang tidak bisa memasak. Dia hanya belum mau mencoba. Enak atau tidak enaknya masakan hanya soal waktu, hanya soal latihan.

Meskipun kegiatan masak-memasak bukan hal baru bagi saya, tetap saja ada rasa deg-degannya. Apakah masakan saya akan berhasil, enak atau enggak. Terlebih ada suami yang juga akan ikut memakan hasil masakan saya. Tapi untung saja pak suami nggak pernah protes, dihidangkan apa saja mau. The bestlah pokoknya. Kemampuan saya dalam masak-memasak semakin tertantang dengan hadirnya bulan Ramadhan. Harus mikir mau masak apa untuk berbuka dan sahur. Apalagi kalau hari kerja, beuh, harus memastikan masakannnya jadi sebelum adzan magrib. Rasanya seperti kejar-kejaran dengan waktu.

Ngarepnya sih kesukaan saya memasak ini nggak cuma gegara baru jadi pengantin, gegara masih pengantin baru.

Yess, Ramadhan tidak terasa sudah memasuki hari ke empat. Sejauh ini puasa saya lancar, pak suami juga. Ibadah di bulan Ramadhan terasa lebih nikmat. Sholat tarawih berjamaah dengan suami, baca Al-Qur’an bareng. Alhamdulillah.

Semoga Ibadah di bulan Ramadhan kita lancar dan berkah ya, selamat berpuasa 🙂

 

Advertisements

4 thoughts on “Perihal Memasak Yang Hanya Soal Mau dan Tidak Mau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s