Books · Opini

Membaca, Dan Alasan Kecil Di Dalamnya


book

reading with you, forever!

Akhir pekan lalu saya jalan-jalan ke toko buku bersama suami. Ini adalah kali pertama saya main ke toko buku setelah menikah. Tujuan saya ke toko buku waktu itu sih belum tentu beli buku, cuci-cuci mata aja dulu kali aja ada yang cocok *ehem. Rasanya sudah lama sekali saya tidak main ke toko buku, berasa ada yang kurang dalam hidup *lebay. Meskipun cerita-cerita soal buku tetap update saya peroleh dari grup paling kece yang saya punya yaitu BBI.

Sesampainya di toko buku saya paham kalau harga buku di Lombok mahal banget *hiks. Harus benar-benar mikir buku mana yang lebih penting untuk dikoleksi, kalau yang nggak perlu dikoleksi sih bisa baca di Ijak atau Scoop, atau minta ebooknya sama temen BBI (ini bagi buku yang punya free ebook ya). Ditambah lagi pak Suami komen “kan masih banyakjuga buku-buku yang belum dibaca di rumah” ……*kemudian pura-pura nggak denger, hahaha.

Di toko buku, mata saya langsung tertuju pada deretan novel-novel yang tersusun rapi. Saya memperhatikan mereka dengan seksama, memperhatikan cover-cover cantik mereka. Tengah asyik membaca sinopsis sebuah buku pak suami melontarkan pertanyaan “kenapa sih suka banget baca novel yang?”. Dari dulu juga udah tahu sih saya suka banget yang namanya baca novel, tapi alasan di balik itu pak suami masih tidak tahu.

Poin cerita saya ini sih mau cerita kenapa saya suka baca, apalagi baca novel. Saya jawab pertanyaan suami “saya juga baca buku non fiksi kali yang :p”, jawaban saya saat itu disambut senyum olehnya. Saya melanjutkan bahwa, membaca novel membuat saya memasuki sebuah dunia baru yang menyenangkan. Meskipun setiap cerita tak mungkin melulu soal kebahagiaan. Ada kisah sedih dan bahagia di dalamnya. Aktivitas membaca membuat saya sejenak melupakan hal-hal yang membuat mumet. Saya bisa menenggelamkan diri pada cerita-cerita yang tertulis itu. Apalagi kalau sampai bertemu cerita-cerita yang benar-benar bikin susah move on. Dari membaca itu saya mendapatkan begitu banyak hal. Meluaskan wawasan, memperkaya kosakata saya, menajamkan ingatan, membuat saya mudah menulis. Banyak.

Saya paham betul bahwa cerita dalam novel itu adalah hanya karangan fiksi, tidak nyata. Tapi kalau diresapi justru cerita-cerita tersebut muncul karena ada sesuatu yang nyata di dalamnya. Misalnya cerita yang dikarang oleh George Orwell yang berjudul Animal Farm. Buku tersebut memang tentang hewan, tentang hewan-hewan yang ada di sebuah peternakan. Orwell membayangkan kalau setiap hewan di peternakan tersebut bisa berbicara. Tapi cerita yang dilakoni oleh hewan-hewan di peternakan tersebut justru menceritakan tentang manusia yang – terkadang serakah dan tidak setia kawan. Buku yang baik selalu menyelipkan pelajaran di dalamnya, tentu jika kamu mau membuka diri.

Pak suami melontarkan senyumnya menyimak kecerewetan saya dalam menjawab. Manis.

Setelah menikah ketahuan juga kalau suami mengoleksi buku-buku yang bahkan sayapun nggak punya. Asyik nih, bisa ikutan baca jadinya. Terima kasih ya pak suami karena nggak protes-protes lihat saya beli buku 😀

By the way, Selamat Hari Buku Nasional gaess!, yuk jangan musuhan sama buku, baca buku biar tetap waras.

Selamat membaca 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s