Opini

Perjalanan Menulis, Sebuah Memori


“If you don’t have time to read, you don’t have the time (or the tools) to write. Simple as that.”

-Stephen King-

Saya tidak tahu persis kemampuan menulis saya  saat ini datang dari mana. Saya tidak kuliah jurusan komunikasi, jurnalistik, atau jurusan tulis menulis lainnya, bahkan tidak pernah menjadi anggota UKM Media atau Pers di masa kuliah. Hanya berawal dari kebiasaan. Kebiasaan mencatat sesuatu di buku catatan atau diari-diari lucu jaman sekolah dulu. Bahkan saya juga curhat-curhatan di diari tersebut. Catatan saya isinya bermacam-macam, mulai dari lirik-lirik lagu yang saya hapal, biodata teman-teman, puisi-puisi, cerita pendek, resep masakan, to do list, rencana-rencana, dan lain-lain.

agenda

*penampakan diari-diari unyu saya*

Namun ada hal penting yang saya tahu persis bahwa kemampuan menulis itu ada karena kebiasaan membaca. Saya ingat sejak duduk di sekolah menengah saya mulai membaca. Awalnya membaca buku-buku tipis. Saat itu bahan bacaan saya masih sedikit karena akses saya pada buku masih sulit. Beruntung ketika SMA saya punya teman yang kakaknya hobi baca dan punya banyak koleksi buku. Jadilah saya langganan meminjam buku-bukunya, apalagi novel-novelnya. Hingga kini saya jadi penggila novel, apalagi cerita romance *uhuk.

Dari hasil bacaan saya jadi punya bahan untuk ditulis. Kosakata saya bertambah. Pilihan katapun bertambah. Gaya bahasa jadi lebih beraneka ragam. Saya ingin mengatakan bahwa benarlah apa yang dikatakan Stephen King di atas. Simpelnya sih kalau nggak pernah baca lantas mau nulis apa?.

Dalam perjalanan saya menulis, memang banyak orang-orang di sekitar saya yang menjadi alasan saya menulis dan penyemangat. Saya ingat sekali ketika seorang teman, -yang tak hanya teman tapi sudah jadi semacam mentor bagi saya “memaksa” saya menulis secara serius, tentu selain skripsi dan tesis ya. Menulis sebuah essay yang harus diterbitkan di koran. Kata dia saat itu, masak mahasiswa nggak pernah nulis *jleb. Akhirnya jadi juga beberapa essay yang berhasil terbit di koran lokal. Next projectnya sih bikin buku, doakan ya semoga segera kelar dan terbit!

img_20140602_102637

*salah satu essay saya yang terbit di Lombok Post*

Terkadang saya merasa banyak sekali hal di kepala saya yang ingin saya tulis. Semuanya seperti berebut ingin loncat keluar. Kadang saya juga mikir semua orang harus tahu apa yang ada dalam otak saya. Jalannya ya ditulis, supaya bisa dibaca orang. Maka saya bikin blog. Blog pribadi ini jadi sarana saya menuangkan ide dan pikiran saya atas berbagai macam hal *bisa diubek-ubek sendiri ya. Blog jugalah yang mengenalkan saya pada semakin banyak hal. Bertemu orang-orang baru dan ilmu baru. So much fun.

Dari kebiasaan tulis menulis inilah juga yang menghantarkan saya pada beberapa startup yang menawarkan saya untuk jadi content writer. Aaah…senang nggak sih, dibayar untuk hal yang kita suka. Mengerjakan apa yang kita sukai tanpa harus lupa untuk mengamalkan ilmu.

Ada hal yang harus diingat bahwa menulis bukanlah sesuatu yang tanpa tanggung jawab, even cuma nulis di blog. Menulis yang bermanfaat dan minimal menghibur adalah hal yang terus saya pegang. Meskipun akhir-akhir ini saya jarang update blog gegara sibuk di dunia nyata *uhuk. Tapi harus dipaksa memang untuk terus menulis karena kalau tidak pasti bakalan jadi males. Yang jelas, jangan takut kehabisan bahan tulisan, bahannya ada dimana-mana. Hanya butuh lebih banyak membaca, mendengarkan, dan jalan-jalan.

Sebagai penutup ada quote dari Sylvia Plath nih

“And by the way, everything in life is writable about if you have the outgoing guts to do it, and the imagination to improvise. The worst enemy to creativity is self-doubt.”

-Sylvia Plath-

*Saya tahu saya belumlah apa-apa, masih begini-begini aja, tapi masih semangat untuk terus belajar 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Perjalanan Menulis, Sebuah Memori

  1. Tp bener bgt yg kamu n Stephen King bilang, makin bxk baca, makin bxk hak yg bisa ditulis. Sy sendiri setelah jrg membaca buku2 umum (non fisika) jadi gak produktif nulis lg… Nulis baru beberapa kalimat, dihapus lg krn serasa dangkal, gak mengena… Semangat nulis mi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s