Environmental · Opini · Traveling

Jangan Jadikan Laut Kami Tempat Sampah


Siapa yang tidak tahu kalau Negara tercinta kita ini merupakan Negara yang memiliki garis pantai terpanjang di benua Asia, dan salah satu yang terpanjang di dunia. Data terbaru dari Badan Informasi Geospasial (BIG) menyebutkan bahwa total garis pantai Indonesia kini mencapai 99.093 km. Hal ini semakin memperkuat ingatan kita bahwa Indonesia adalah Negara kepulauan. Kalau sudah demikian maka jelas Indonesia dikelilingi lautan yang luas.

Tercatat 13.466 pulau yang terdaftar dan berkoordinat yang berada di wilayah Indonesia saat ini (sumber: BIG), yang terbentang sari Sabang sampai Merauke. Namun tidak tertutup kemungkinan masih banyak lagi pulau-pulau lain di Indonesia yang belum terdaftar. Pulau-pulau yang ada di Indonesia tersebut memiliki keindahan yang sudah tersohor sampai ke mancanegara. Memiliki pantai-pantai yang cantik dengan pasir putih hitam bahkan pink, memiliki flora dan fauna yang tiada duanya baik di laut maupun di darat. Tak hanya sampai di situ, keragaman budaya yang dimiliki penduduk yang mendiami pulau-pulau tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri. Perpaduan tersebut menjadikan pulau-pulau di Indonesia sangat sayang untuk dilewatkan.

Karena pulau-pulau inilah juga, maka tidak mengherankan jika penduduk Indonesia memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Sebagian besar dari mereka menggantungkan hidupnya pada hasil laut Indonesia. Terdapat banyak kampung nelayan di berbagai wilayah Indonesia yang memberikan warna tersendiri bagi keragaman budaya Indonesia.

Terus, apa yang terlintas jika mendengar tentang kampung nelayan?, Pernahkan kalian berkunjung ke kampung nelayan?, mungkin untuk sekedar berjalan-jalan menikmati pemandangan atau untuk mengamati kehidupan yang ada di kampung tersebut dan mengobrol dengan penduduknya.

Salah satu pikiran yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata kampung nelayan pasti  adalah kampung dengan lingkungan yang kumuh, kotor dengan banyak sampah dimana-mana, sampai dengan bau amis yang menusuk hidung. Hal ini tidak sepenuhnya salah karena di banyak kampung nelayan memang memiliki keadaan seperti itu. Tadinya saya sendiri tidak mempersoalkan hal ini, tidak pernah juga kepikiran soal kampung nelayan. Sampai pada suatu pagi di hari minggu yang cerah saya datang ke sebuah kampung nelayan di Ampenan sana (iya ini di Lombok). Di sebelah kampung ini sih ada pantainya yang sekarang sudah dibikin bagus, dan kini ramai oleh para wisatawan yang kebanyakan wisatawan lokal.

Saya adalah orang yang sangat suka pantai. Walaupun setelah main ke pantai pasti ibuk akan komentar “kok iteman?” dan saya cuma bisa nyengir. Pantai seperti punya kekuatan magic yang membuat saya hanya dengan memandangnya saja sudah cukup. Iya, saya belum berani untuk nyemplung ke dalamnya lautan, baru berani nyemplung ke dalamnya hatimu saja #eh #krikkrik.

Okey balik lagi ke soal kampung nelayan tadi jadi hari minggu cerah kala itu adalah untuk pertama kalinya saya sedih melihat pantai. Hati saya rasanya seperti diiris, perih. Saya meringis melihat pantai itu. Sebabnya adalah kelakuan orang-orang di sekitar itu yang membuang sampah sembarangan. Tak tanggung-tanggung langsung ke laut!. Ya ampun saya tercekat melihatnya. Berkantong-kantong sampah mereka buang ke laut. Belum genap 30 menit saya berada di sana saya melihat sudah ada enam orang yang membuang sampah, mulai dari orang dewasa sampai dengan anak-anak. Untuk yang masih anak-anak saya curiga mereka pasti disuruh membuang sampah di sana oleh orang dewasa lainnya, bisa jadi oleh orang tuanya. Sampah yang dibuang adalah kebanyakan sampah rampah tangga yang tentu saja termasuk plastik di dalamnya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya?. Yups, sampahnya balik lagi ke daratan, ke pantai. Dan jelas membuat sampah menumpuk di pinggir pantai. Hingga membuat pasir tak lagi tampak indah, air laut tak lagi bening. Tapi hal itu seperti tidak mengganggu orang-orang di kampung tersebut, karena dari pengamatan saya mereka tetap asyik berada di pantai tersebut termasuk mandi di sana. Bahkan mereka juga memandikan hewan seperti kuda di pantai itu. Ngeri nggak?

img_20160410_061554

*penampakan yang saya lihat pagi itu*

Saya yakin hal ini sudah berlangsung lama. Sudah menjadi kebiasaan yang memang saking biasanya membuat orang-orang ini merasa tidak berdosa membuang sampah ke laut. Lalu ini masalah siapa? Apa yang terjadi sebenarnya?. Hal ini bisa terjadi karena secara turun temurun orang-orang ini melakukannya. Kemudian diikuti oleh anak-anaknya dan kemungkinan akan  menularkan kembali kebiasaan tersebut kepada anak-anak mereka kelak. Jika tidak ada gerakan yang membuat mereka berhenti melakukannya maka sampai kapanpun akan tetap ada kebiasaan buang sampah di laut. Akibat dari aktivitas membuang sampah di laut sungguh tidaklah kecil. Mungkin saat ini tidak terasa besar tapi lihat beberapa tahun ke depan, akan membuat lingkungan (atmosfir, hidrosfir, litosfir) ini tidak lagi nyaman untuk ditinggali. Meskipun lingkungan memiliki kemampuan “self purification”, tapi tak akan berhasil jika kita sengaja merusak lingkungan.

img_20160410_064440

*penampakan yang saya lihat pagi itu*

Mengubah kebiasaan tersebut memang tidak mudah. Sangat kompleks, berkaitan dengan banyak hal. Tapi jangan sampai lupa bahwa ada satu sisi yang bisa kita dekati untuk mulai mengubah kebiasaan buruk tersebut. Kita bisa mulai dengan mengedukasi orang-orang tersebut. Akan terasa sulit memang jika yang kita edukasi adalah orang dewasanya, tapi coba kalau yang diedukasi adalah anak-anaknya. Anak-anak adalah kelompok masyarakat yang mudah didekati. Mereka masih fresh dan terbuka dengan gagasan-gagasan baru. Mudah untuk menularkan dan mengajarkan kebiasaan-kebiasaan baik pada mereka. Dengan begitu mereka akan tetap ingat dan akan menularkan kebiasaan baik yang sama di masa depan. Bukan hanya itu, kita juga perlu inisiatif dari para pemuda kampung untuk bergerak mengkampanyekan bahwa laut bukanlah tempat sampah. Para pemuda ini yang terjun langsung di kampungnya. Karena kalau orang lain (warga daerah lain) yang tiba-tiba masuk di kampung tersebut pasti akan lebih sulit diterima masyarakat. Satu lagi, pemerintah juga tidak bisa tinggal diam karena wajib menyediakan sarana dan prasarana bagi warganya. Di kampung tersebut saya tidak melihat bak sampah soalnya. Bisa jadi ini juga menjadi sebab orang-orang tersebut buang sampah di laut. Masalah sampah memang nggak ada habisnya, ini masalah sudah ada dari jaman baheula sampai 2016 ini. Orang yang kuliah teknik lingkungan aja belum tentu bisa mengatasi masalah sampah dengan tuntas #nyengir. Ini masalah kita bersama.

Tapi, mewujudkan kampung nelayan yang tak lagi kumuh bukanlah impian belaka. Karena saya pernah melihat buktinya di sebuah kampung nelayan di pesisir Kota Suarabaya, awal bulan lalu. Kampung nelayan tersebut berada di Kejawan Lor Kelurahan Kenjeran Kecamatan Bulak, Surabaya. Memang ada sebuah lembaga yang membantu mengedukasi warga di sana dan terasa berat di awal namun kini telah menuai hasil. Warga di sana sudah malu membuang sampah sembarangan. Mereka mengolah sampah dapur menjadi pupuk dengan metode takakura, membuat kerajinan dari kerang-kerang laut yang banyak berserakan, dan membuat olahan hasil laut untuk meningkatkan nilai jual. Sepanjang jalan di kampung tersebut banyak papan-papan yang berisikan pengingat bahwa buang sampah sembarangan adalah tindakan paling memalukan. Hal menarik lainnya adalah anak-anak di sana sudah banyak paham soal sampah. Mereka akan menjadi pengingat orang dewasa untuk tidak buang sampah sembarangan. Edukasi pada anak-anak dilakukan dengan permainan dan mencontohkan secara langsung. Lingkungan mereka rapi dan bersih, anak-anak jadi ceria bermain.

img_0533

*anak-anak di Kejawen Lor*

Kalau warga Kejawan Lor saja bisa kenapa Ampenan nggak bisa?

Sebenarnya prilaku membuang sampah di laut tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang tinggal di kampung nelayan. Prilaku ini bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk kamu, iya kamu. Jadi kebiasaan buruk ini bisa melekat pada siapa saja. Dan jelas bisa merusak keindahan alam Indonesia. Sedih kan kalau alam indah yang diberikan kepada Indonesia justru rusak akibat warganya sendiri. Mulailah dari diri sendiri untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Ingat ya kalau laut bukanlah tempat sampah raksasa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s