Opini · Traveling

#DAY7: Cerita Dari Sumbawa Yang Belum Usai


Sudah hari ke tujuh kami berada di Sumbawa dan tadi malam kami sudah kembali menginap di camp Newmont. Hari ini kami masih akan berkeliling ke daerah lingkar tambang Newmont. Tempat yang kami kunjungi pertama adalah tempat pembuatan Virgin Coconat Oil (VCO) yang berada di Desa Dasan Kecamatan Jereweh, masih di Kabupaten Sumbawa Barat. VCO yang dibuat di tempat ini adalah hasil kerjasama antara warga masyarakat, Newmont dan IPB. Ini merupakan program pemberdayaan masyarakat yang dibantu oleh Newmont. Newmont membantu untuk penyediaan peralatan. VCO yang dihasilkan di tempat ini merupakan bahan untuk membuat kosmetik yang pembuatannya dilakukan oleh IPB. Pelatihan VCO untuk masyarakat juga dilakukan secara rutin.

Setelah dari tempat pembuatan VCO kami akan menuju Desa Kertasari. Kali ini kami akan mendatangi desa yang berada di tepi pantai. Yaa…kertasari adalah kampung nelayan yang secara administrasi masuk dalam wilayah Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Memasuki Kertasari tampaklah rumah-rumah panggung yang menjadi ciri perkampungan nelayan. Pola ruang berubah maka berubah pula aspek yang lain termasuk bentuk rumah dan pekerjaan penduduknya. Namun terdapat beberapa rumah yang bentuknya bukan lagi rumah panggung tetapi rumah batu bata seperti rumah di desa atau kota lain. Bau laut menembus indra penciuman kami, angina laut menyapa kulit kami, dan sinar matahari yang terik sudah lama membuat kulit satu tingkat lebih gelap dari sebelum kami datang ke Sumbawa, tetapi para peserta bootcamp masih bersemangat. Masih semangat karena akan mendapatkan hal baru lagi, cerita baru lagi, foto baru lagi.

DSCF9649

*sumber foto: Monika Yolando Putri

Kertasari merupakan desa nelayan yang menjadi penghasil rumput laut dan mengolah rumput laut tersebut menjadi berbagai macam produk. Produk olahan rumput laut yang dihasilkan antara lain adalah dodol rumput laut dan stik rumput laut. Newmont juga memberikan dukungan kepada Kertasari untuk pengembangan rumput laut. Hampir semua penduduk Kertasari menggantungkan hidupnya pada laut salah satunya dengan menjadi petani rumput laut. Satu hal lagi yang tidak biasa adalah ternyata hampir 75% penduduk Kertasari adalah keturunan bugis, berdarah Sulawesi. Jadi bahasa yang digunakan adalah campuran antara bahasa Sumbawa dan bahasa bugis.

DSCF9700

*sumber foto: Monika Yolando Putri

Di Kertasari kami dijamu makan siang dengan makanan yang luar biasa sedapnya. Ada urap rumput laut, sate abalone (sejenis kerang laut), sepat (makanan khas Sumbawa yang berbahan dasar ikan dengan daun aru), sambel cumi, dan sambel cabe rawit yang super enak. Di tengah teriknya matahari kami makan siang dengan sangat lahap. Makan siang kami dilengkapi dengan es rumput laut yang manis dan segar. Rasa rumput lautnya yang kenyal terasa segar. Rumput laut yang digunakan sudah berbentuk jeli. Cara membuatnya adalah rumput laut tersebut dimasak bersama air hingga mengental kemudian ditempatkan dalam wadah, setelah dingin dipotong-potong dan dicampur dengan bahan es campur yang lain.

IMG_20160220_121002

*dokumen pribadi

Setelah mengunjungi Kertasari kami mengunjungi landmark Taliwang yang hits yaitu masjid Agung Darussalam Taliwang. Kami melaksanakan sholat ashar di masjid ini. Masjid megah ini dikelilingi oleh bukit-bukit hijau dan memiliki halaman luas yang sering digunakan oleh masyarakat untuk sekedar bersantai. Kami juga sempat menikmati halaman masjid ini dan mengambil foto di depannya. Senyum masih mengembang di wajah-wajah kami. Selagi di Taliwang kami juga mampir ke rumah pak Arie Burhanuddin selaku penanggung jawab kegiatan Newmont Bootcamp di Sumbawa. Pak Arie dengan senang hati (apa terpaksa ya…bukan gara-gara dipaksa kak Cumi kan pak? …haha) mengundang kami ke rumahnya. Sekedar untuk menikmati secangkir kopi dan sepiring kue. Terima kasih banyak pak atas undangannya.

IMG-20160224-WA0033

*lupa siapa yang foto

Satu hari lagi bertambah. Bertambah lagi cerita kami, pertambah lagi pengalaman dan wawasan kami. Sumbawa telah memberikan cerita baru dalam kehidupan kami masing-masing. Sumbawa menjadi tanah yang mempertemukan kami. Banyak cerita baik yang harus didengar oleh orang banyak di luar sana tentang Sumbawa. Dan semoga kami bisa menjadi penutur yang baik bagi mereka.

 

Advertisements

2 thoughts on “#DAY7: Cerita Dari Sumbawa Yang Belum Usai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s