Opini

Tak Ada Yang Baru Di Bawah Matahari


Tak Ada Yang Baru Di Bawah Matahari

Kalimat tersebut saya dengar pertama kali dari seorang dosen saya dulu. Waktu itu ia sedang menjadi pemateri dalam acara kepenulisan ilmiah. Ia adalah seorang profesor yang juga menjadi reviewer untuk program kreativitas mahasiswa. Dalam kesempatan tersebut ia menyampaikan bagaimana memunculkan dan menggali suatu hal yang menarik untuk diteliti sehingga proposal penelitian dapat tembus untuk dibiayai.

Dosen tersebut mengatakan bahwa, jangan terlalu berpikir yang terlalu wah, berpikir terlalu tinggi sehingga membuat pusing duluan sebelum menulis dan meneliti. Kita seringkali terjebak pada keinginan-keinginan yang terlalu besar, sampai melupakan hal-hal yang sederhana. Hal-hal kecil yang ada di sekitar kita, yang sebenarnya jika ditelusuri akan sangat menarik untuk diteliti. Ia mengatakan, “Karena Tak Ada Yang Baru Di Bawah Matahari”. Semuanya sudah ada, kita tidak perlu mencari-cari lagi. Hal yang harus dilakukan adalah bagaimana memodifikasi yang sudah ada, mengembangkannya, mengintegrasikannya dengan sesuatu lainnya. Sehingga terciptalah sesuatu yang lebih bernilai dan bermanfaat.

Memang benar, Tak ada yang baru di bawah matahari

Waktu berlalu, setelah bertahun-tahun saya kembali diingatkan tentang kalimat tersebut hari ini oleh seorang penulis fiksi. Ia adalah Bernard Batubara yang sering disapa Bara. Penulis yang bisa dibilang sedang naik daun akhir-akhir ini. Saya berkesempatan untuk bertemu dan mendengarkan ia berbagi pengalaman. Bara bercerita kalau setiap ada kesempatan seperti talkshow, meet & greet, atau di kelas kopdar fiksi yang ia asuh, seringkali ditanya bagaimana memunculkan ide tulisan. Menurut dia itu adalah pertanyaan yang tidak masuk akal, karena ide itu ada dimana-mana. Hal yang harus dilakukan adalah kita harus lebih peka dengan sekitar kita. Membuka diri, membuka pikiran, mengajak otak untuk berpikir dan berimajinasi. Persis seperti yang disampaikkan oleh dosen saya sebelumnya bahwa kita cenderung ingin menciptakan sesuatu yang wah, sesuatu yang belum ada di muka bumi ini (dalam hal ini tulisan), hanya karena tak ingin dikatakan klise. Namun sebenarnya itu adalah hal yang mustahil. Yang harus diperhatikan adalah “bagaimananya” bukan “apanya” , maka akan tercipta sesuatu yang spesial.

Misalnya ketika akan menulis tentang cinta. Seperti yang kita tahu bahwa cinta sudah banyak ditulis oleh banyak penulis. Kemudian kita malah terlalu takut untuk mulai menulis karena ingin menulis kisah cinta yang wah, yang tidak terdengar klise hingga membuat kita tidak berkembang. Padahal unsur tulisan (misalnya novel) tidak hanya terletak di ide, namun banyak faktor lain yang harus diperhatikan seperti tokoh, karakter, alur, setting, narasi dan lain-lain. Banyak hal yang bisa dieksplore lebih jauh. Karena tak ada yang baru di atas muka bumi, kecuali jika mungkin suatu hari kita bangun di pagi hari kemudian menemukan ada tiga matahari, bisa jadi akan ada sesuatu yang baru.

Yaa…kalimat tak ada yang baru di bawah matahari begitu melekat di pikiran saya. Layak untuk direnungkan dan menjadi penggerak untuk lebih mengembangkan diri, untuk berkarya dan bekerja. Menjadi pengingat untuk tidak melupakan hal-hal kecil di sekitar kita yang pada dasarnya berharga.

By the way, tulisan mengenai hasil meet and greet dengan Bara hari ini akan saya share di blog saya yang khusus membahas buku dan tulis menulis barubukuku.blogspot.com

:))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s