Books · Opini · Random

The Fault in Our Stars


Saya tahu ini terlambat, tapi tidak ada kata terlambat untuk share tentang ini. Ini adalah tentang sebuah film yang saya tonton semalam yaitu The Fault in Our Stars. Film ini diangkat dari novel karangan Jhon Green dengan judul yang sama. Sebelum filmnya dibuat saya sudah lama membaca buku ini. Waktu itu saya membelinya karena ada tulisan new york time best seller di sampulnya. Ini adalah kebiasaan saya jika bingung ingin membeli buku yang mana, maka saya akan memilih buku yang ada tulisan best sellernya. Ternyata setelah membaca bukunya harus diakui bukunya memang bagus walau terasa sedikit agak berat bahasanya, kebetulan saya membeli edisi terjemahan Indonesianya. Di dalamnya banyak quote-quote yang romantis dan yang membangkitkan semangat. Karena memang bagus dan best seller akhirnya buku tersebut dibuat film. Awalnya saya tidak berniat menonton filmnya, karena menurut saya film yang diangkat dari buku terkadang tidak sebagus bukunya. Namun setelah berbulan-bulan lewat dari launching filmnya, semalam setelah ngopi dari teman dan sedang punya waktu luang saya menonton film ini.

Voila! filmnya keren sodara-sodara.
Mungkin karena saya adalah orang yang memang suka novel, drama, dan hal-hal yang romantis maka saya langsung suka film ini. Namun dalam film ini juga ada adegan komedinya, jadi jangan hawatir disini tetap ada hal-hal lucunya. Saya menonton film ini tanpa saya geser-geser untuk dipercepat. Film ini bercerita tentang penderita kanker, tokoh utamanya Hazel Grace dan Augustus Waters. Saya sangat suka mereka berdua. Hazel Grace sosok yang benar-benar menjadi dirinya sendiri, dia tidak hidup dalam impian orang lain. Dia memiliki pemikiran-pemikirannya sendiri tentang dunia dan hidupnya. Ia anak yang manis dan sangat mencintai keluarganya. Walau terkena kanker dia tidak merasa terpuruk meski disaat-saat kritis dia hampir kehilangan harapannya. Sedangkan Augustus Waters sosok yang periang, penuh senyum dan humoris. Kanker yang bersemayam dalam tubuhnya tidak menghilangkan senyum di wajahnya. Ia disayangi orang-orang termasuk sahabatnya Isaac dan begitupun sebaliknya. Kehadiran Augustus telah memberikan warna baru dalam hidup Hazel. Memberikan dukungan, semangat, kasih sayang dan ikut mewujudkan impian Hazel untuk bertemu penulis favoritnya.

Namun kematian tetap saja menjadi hal yang menyedihkan. Augustus mati karena kanker yang semakin parah, meninggalkan Hazel yang masih harus berjuang melawan kankernya. Pidato pemakaman Hazel juara! berhasil membuat saya berderai airmata.

Hazel mengatakan:

“You gave me a forever within the numbered days. I cannot tell you how thankful I’am for our little infinity”

Original soundtrack dari film ini juga keren-keren dan pas banget sama filmnya. Bagi yang suka drama romantis tontonlah film ini, maka kalian akan mengerti. Jangan lupa baca bukunya juga ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s