Opini

Suatu siang di Bandara


Siang itu kau datang ke Bandara, katamu kau mau mengantarku pergi, sebenarnya bukan pergi, pulang lebih tepatya, pulang ke rumah. Aku tidak ada ide mengapa kau mau menyempatkan diri menemuiku di bandara waktu itu.

Aku duduk di kursi tunggu sebelum chek-in sambil memperhatikan orang-orang di Bandara. Bandara waktu itu ramai sekali, orang-orang berlalu lalang dan orang-orang yang mengobrol, para petugas yang menyapa ramah dan para pekerja yang menawarkan jasa.

Tidak sulit untuk melihatmu dari kejauhan, yang datang dari arah tempat parkir. Walau mataku yang kini silinder, yang ketika melihat sesuatu di kejauhan selalu buram, tapi aku tetap bisa mengenalimu. Dengan posturmu yang tinggi itu dan masa aku mengenalmu yang sudah bertahun-tahun aku bisa mengenalimu.

Kemudian mengobrollah kita, disela-sela waktu menunggu. Entah berawal darimana, percakapanpun mengalir. Mungkin karena kita sudah lama tidak bertemu jadi banyak sekali cerita yang tersampaikan. Aku merasa seperti diri sendiri yang bercerita dengan bebasnya dan kau yang duduk mendengarkan, sesekali kita berdebat tentang sesuatu yang akhirnya membuat kita tertawa.

Kau menyelipkan sebuah buku. Kau bilang buku itu bagus, cerita tentang Jogja dan Bandung. Selain itu kau tidak berkata-kata apapun tentang buku itu. Namun setelah membukanya aku tahu ada misi dalam buku itu. Baru membaca sinopsis buku itu saja aku tahu maksudmu.

Siang itu di Bandara, ada yang tersenyum lebar karena sebuah pertemuan dan cerita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s