Opini

Monolog Matahari #1


Hari ini aku melihat sepasang burung terbang di kejauhan …….

Hai, perkenalkan namaku Matahari. Entah siapa yang pertama kali member nama itu padaku dan di setiap daerah yang lain mereka menyebutkan dalam kata yang lain dalam bahasa mereka. Ini cukup membingungkan awalnya, namun cukup membuatku tersenyum, setidaknya aku punya nama.

Aku ada di atas, ribuan kilometer jaraknya dari tanah yang biasa kalian pijak. Tida ada satupun dari kalian yang dapat menjangkauku ataupun menyentuhku, karena kalian akan hangus terbakar jika mencoba melakukannya. Bahkan sebelum benar-benar dekat denganku. Kalian akan hangus karena pijarku yang ribuan Kelvin panasnya.

Karena keberadaanku yang selalu di atas maka aku dapat menyaksikan apa yang terjadi di bawahku. Bagaimana anak-anak manusia beraktifitas. Menyaksikan belahan dunia porak poranda karena rusaknya alam. Menyaksikan belahan dunia yang lainnya tumbuh subur dan makmur. Meskipun aku tak bisa mengetahui yang tersembunyi, karena masih ada yang Maha Tinggi.

Ada kalanya aku memancarkan pijar yang begitu terang dan menyengat, dan ada kalanya juga aku enggan untuk bersinar dan awan membantuku bersembunyi. Sinar yang terang dan sinar yang redup selalu saja menghiasi hari-hariku. Membuat orang-orang di bawah sana mengucap syukur atau mengumpat kesal. Jarang yang senantiasa bersyukur atas apa yang terjadi di sekelilingnya. Apa itu memang sudah menjadi tabiat kalian?

Advertisements

4 thoughts on “Monolog Matahari #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s