Opini

Kesan Pertama


Akhirnya saya bisa bertemu dengan salah satu penulis favorit saya, Tere Liye. Ini memang pertama kalinya saya bertemu dengan seorang penulis, penulis favorit lagi, jadi saya sangat senang dengan kesempatan ini. Sejak awal saya penasaran bagaimana Tere Liye ketika berbicara secara nyata. Bagaimana dia menyampaikan pemikiran-pemikirannya ketika didepan orang. Hari itu saya sengaja datang lebih awal agar dapat duduk di deretan paling depan, saya tidak mau melewatkan kesempatan melihat Tere Liye lebih dekat, hehe.

Sebelum jam acara dimulai tiba-tiba Tere Liye muncul, dia datang ke lokasi workshop dan menyapa kami yang sudah berada di lokasi. Betapa senangnya saya melihat dia, Tere Liye begitu ramah dan selalu tersenyum. Dia juga ikut mengecek perlengkapan workshop bersama panitia, “beruntung banget panitianya bisa ngobrol langsung begitu sama Tere Liye” ungkap saya dalam hati.

Tampilan Tere Liye ternyata santai banget, dia tidak kaku. Hari itu dia mengenakan sepatu kets, celana dari bahan kain yang modelnya seperti celana yang sering dipakai cowok-cowok untuk naik gunung, tapi bukan parasut, saya tidak tahu namanya. Dia memakai baju kaos berwarna putih dengan sebuah tulisan berwarna hijau dan sebuah sweater yang hanya disampirkan. Pelengkapnya adalah sebuah topi. Dan hey semua setelan yang dia pakai hari itu senada, istilahnya matching.Dengan dominan warna hijau yang pas untuk laki-laki. Good lookinglah pokoknya 😀

Ternyata Tere Liye lahir tanggal 21 Mei, sekarang usianya 33 tahun. Dia lulus sarjana dari Universitas Indonesia, dan sempat juga mengajar di almamaternya.Dia asli dari Palembang. Dia seorang akuntan, sudah berkarir jadi akuntan sepuluh tahunan. Tere Liye selalu bilang bahwa dia bukan penulis, dia adalah seorang akuntan. Dia menulis karena dia memang suka. Dia sudah mulai menulis sejak berusia 6 tahun, sekitar usia 8 tahun sudah mengirim tulisan-tulisannya ke majalah anak-anak waktu itu.Dan semasa kuliahpun dia semakin sering menulis.

Mendengar Tere Liye berbicara itu tidak membosankan. Kata-kata yang disampaikannya sangat mudah dicerna. Dia juga ternyata orang yang humoris, kerap menyelipkan humor ketika menyampaikan materi, membuat acaranya menjadi menyenangkan. Karena dia penulis fiksi maka dia juga sering menyampaikan sesuatu dengan sebuah kisah yang selalu mengandung poin penting dari apa yang ingin disampaikannya.

Tere Liye banyak berbagi pengalamannya ketika menulis novel-novelnya. Ada novel yang ia tulis selama bertahun-tahun baru kemudian diterbitkan, namun ada pula novel yang ia tulis hanya dalam waktu sepuluh hari. Pengalaman naskah ditolak oleh penerbitpun pernah ia rasakan. Namun itulah proses yang harus dilalui untuk mencapai masa sekarang, ungkapnya. Mungkin orang hanya bisa melihat hasil yang telah kita capai tanpa mempedulikan apa yang telah kita lalui sebelumnya. Namun proses itulah yang menjadikan kita seperti apa yang kita inginkan, maka proses itu penting. Kita tidak bisa loncat begitu saja, tidak mungkin dapat menulis sepuluh halaman tanpa pernah menulis satu halamanpun.

Dari novel-novel yang ditulis Tere Liye, saya banyak mendapatkan pemahaman yang baik melalui tokoh-tokoh dan alur ceritanya. Maka saya selalu menantikan kapan novel terbarunya terbit lagi.

Kesan pertama bertemu Tere Liye so unforgettable moment deh 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s